Rabu, 31 Maret 2010

Masa Depan Alam Indonesia

Indonesia, negara yang kita tinggal ini adalah negara yang indah. Penuh dengan sumber daya alam, dan banyak sekali fauna dan flora yang unik, dan tidak ditemui di tempat lain. Saya merasa bahwa saya beruntung sekali, menjadi salah satu bagian dari bumi pertiwi yang indah dan penuh ragam dan warna.

Akan tetapi banyak sekali perubahan yang terjadi di beberapa tahun ini yang membuat saya menjadi kuatir akan masa depan alam yang begitu indah di negeri kita ini. Penebangan hutang liar yang terjadi di daerah Kalimantan, yang membuat hutan tropis primer sekian lama sekian sedikit.

Saya juga membaca bahwa penangkapan ikan hias air laut yang mengunakan bom ikan, yang sangat disayangkan. Hutan bakau yang semestinya bisa membantu menjaga keseimbangan ekosistem di muara juga sebagian sudah disingkirkan untuk memacu pembangunan infrastruktur. Namun anda pasti bertanya, apakah itu salah? Dari segi ekonomi, mungkin jawabannya adalah tidak, tapi sebagai seorang yang mencintai lingkungan, saya harus bilang ya.

Indonesia adalah negara kepulauan, yang sumber flora dan fauna nya terdapat di atas air, maupun di dalam air. Salah satu contohnya, adalah burung cenderawasih yang terdapat di Irian Jaya dan Papua, Orangutan yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Biawak Komodo atau Komodo Dragon yang terdapat di Pulau Komodo, dan banyak sekali taman nasional bawah air yang terkenal di Bali, Manado dll.

Akan tetapi, kalau kita tidak memeliara alam yang kita punya sekarang, kita akan dihadapkan dengan masa depan yang suram. Banjir yang kita sering dengar di dalam berita, adalah satu dampak karena penebangan liar yang sering terjadi. Bukan hanya itu saja, pengusuran hutan bakau akan mengurangi daya serap gas karbon dioksida yang telah terbukti sebagai salah satu gas rumah hijau.

Dan dengan seiringnya penebangan hutan yang liar, di tambah penangkapan ikan hias air laut dengan cara pengunaan bom ikan, membuat saya kuatir tentang masa depan alam yang kita miliki ini. Setiap satu hektar hutan hujan yang kita tebang, entah berapa spesies flora dan fauna yang sampai sekarang mungkin belum kita ketahui telah kita musnahkan tanpa sadar. Salah satunya adalah populasi Orangutan di Sumatra dan Kalimantan yang sedang dalam status Endangered atau terancam keberadaannya.

Pengunaan bom ikan untuk menangkap ikan hias, bisa merusak terumbu terumbu karang, yang penting sekali untuk kelancaran ekosistem di dalam laut. Dan ikan ikan hias yang biasanya ditangkap dengan cara yang biadab tersebut, biasanya tidak akan lama hidup walaupun sudah dipindah ke akuarium, karena salah satu zat yang biasa digunakan untuk membuat bom ikan, adalah sebuah zat bernama sianida, yang telah terbukti beracun untuk hamper semua makhluk hidup.

Kalau aksi aksi yang telah saya sebut ini tidak diredam atau dicegah secepat mungkin, kita mungkin tidak lagi bisa menikmati keindahan alam yang membuat negeri ini menjadi cantik nan kaya akan flora dan faunanya. Ada pepatah yang berkata, kita akan menuai apa yang kita tanam, dan saya secara pribadi tidak mau pepatah itu menjadi kenyataan karena ulah kita sendiri.

Dari sisi ekonomi pun, perusakan alam yang sedang terjadi juga akan berdampak negatif, karena, banyak turis turis mancanegara justru datang ke negara kita untuk menikmati keindahaan alam kita, termasuk yang di bawah air. Bayangkan dampak ekonomi yang kita akan merasakan, apabila salah satu daya tarik pariwisata kita yang kita banggakan, dihancurkan oleh tangan kita sendiri.

Maka, saya menghimbau kepada segenap bangsa kita, untuk meyayangi dan menjaga sumber daya alam yang ada di bumi pertiwi ini, supaya kita masih bisa menikmatinya, dan lebih penting lagi, supaya generasi generasi yang akan mengikuti akan juga bisa menikmatinya, dan bukan cuma akan mengetahuinya dari buku buku atau di dalam kebun binatang saja. Itu adalah sesuatu yang pasti akan terjadi kalau kita tidak mulai sekarang mencintai dan menjaga apa yang telah bumi pertiwi ini serahkan dan memberi kita semua untuk dinikmati.

Masa Depan Alam Indonesia

Indonesia, negara yang kita tinggal ini adalah negara yang indah. Penuh dengan sumber daya alam, dan banyak sekali fauna dan flora yang unik, dan tidak ditemui di tempat lain. Saya merasa bahwa saya beruntung sekali, menjadi salah satu bagian dari bumi pertiwi yang indah dan penuh ragam dan warna.

Akan tetapi banyak sekali perubahan yang terjadi di beberapa tahun ini yang membuat saya menjadi kuatir akan masa depan alam yang begitu indah di negeri kita ini. Penebangan hutang liar yang terjadi di daerah Kalimantan, yang membuat hutan tropis primer sekian lama sekian sedikit.

Saya juga membaca bahwa penangkapan ikan hias air laut yang mengunakan bom ikan, yang sangat disayangkan. Hutan bakau yang semestinya bisa membantu menjaga keseimbangan ekosistem di muara juga sebagian sudah disingkirkan untuk memacu pembangunan infrastruktur. Namun anda pasti bertanya, apakah itu salah? Dari segi ekonomi, mungkin jawabannya adalah tidak, tapi sebagai seorang yang mencintai lingkungan, saya harus bilang ya.

Indonesia adalah negara kepulauan, yang sumber flora dan fauna nya terdapat di atas air, maupun di dalam air. Salah satu contohnya, adalah burung cenderawasih yang terdapat di Irian Jaya dan Papua, Orangutan yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Biawak Komodo atau Komodo Dragon yang terdapat di Pulau Komodo, dan banyak sekali taman nasional bawah air yang terkenal di Bali, Manado dll.

Akan tetapi, kalau kita tidak memeliara alam yang kita punya sekarang, kita akan dihadapkan dengan masa depan yang suram. Banjir yang kita sering dengar di dalam berita, adalah satu dampak karena penebangan liar yang sering terjadi. Bukan hanya itu saja, pengusuran hutan bakau akan mengurangi daya serap gas karbon dioksida yang telah terbukti sebagai salah satu gas rumah hijau.

Dan dengan seiringnya penebangan hutan yang liar, di tambah penangkapan ikan hias air laut dengan cara pengunaan bom ikan, membuat saya kuatir tentang masa depan alam yang kita miliki ini. Setiap satu hektar hutan hujan yang kita tebang, entah berapa spesies flora dan fauna yang sampai sekarang mungkin belum kita ketahui telah kita musnahkan tanpa sadar. Salah satunya adalah populasi Orangutan di Sumatra dan Kalimantan yang sedang dalam status Endangered atau terancam keberadaannya.

Pengunaan bom ikan untuk menangkap ikan hias, bisa merusak terumbu terumbu karang, yang penting sekali untuk kelancaran ekosistem di dalam laut. Dan ikan ikan hias yang biasanya ditangkap dengan cara yang biadab tersebut, biasanya tidak akan lama hidup walaupun sudah dipindah ke akuarium, karena salah satu zat yang biasa digunakan untuk membuat bom ikan, adalah sebuah zat bernama sianida, yang telah terbukti beracun untuk hamper semua makhluk hidup.

Kalau aksi aksi yang telah saya sebut ini tidak diredam atau dicegah secepat mungkin, kita mungkin tidak lagi bisa menikmati keindahan alam yang membuat negeri ini menjadi cantik nan kaya akan flora dan faunanya. Ada pepatah yang berkata, kita akan menuai apa yang kita tanam, dan saya secara pribadi tidak mau pepatah itu menjadi kenyataan karena ulah kita sendiri.

Dari sisi ekonomi pun, perusakan alam yang sedang terjadi juga akan berdampak negatif, karena, banyak turis turis mancanegara justru datang ke negara kita untuk menikmati keindahaan alam kita, termasuk yang di bawah air. Bayangkan dampak ekonomi yang kita akan merasakan, apabila salah satu daya tarik pariwisata kita yang kita banggakan, dihancurkan oleh tangan kita sendiri.

Maka, saya menghimbau kepada segenap bangsa kita, untuk meyayangi dan menjaga sumber daya alam yang ada di bumi pertiwi ini, supaya kita masih bisa menikmatinya, dan lebih penting lagi, supaya generasi generasi yang akan mengikuti akan juga bisa menikmatinya, dan bukan cuma akan mengetahuinya dari buku buku atau di dalam kebun binatang saja. Itu adalah sesuatu yang pasti akan terjadi kalau kita tidak mulai sekarang mencintai dan menjaga apa yang telah bumi pertiwi ini serahkan dan memberi kita semua untuk dinikmati.

Yuk, ke Pameran Flora dan Fauna

Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta akan menggelar pameran flora dan fauna (Flona) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 17 Juli hingga 20 Agustus mendatang. Pameran itu bertujuan untuk mengumpulkan para pencinta tanaman serta hewan peliharaan.

Kabid Taman Kota Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Dwi Bintarto, di Jakarta, Rabu (15/7), mengatakan, pameran flora dan fauna ini merupakan barometer penetapan harga dan tren tanaman hias beberapa waktu ke depan. "Harga di sini jadi indikator dan patokan. Saat ini yang lagi tren sansievierra, aglonema, adenium, anthurium, serta puring," katanya seperti dikutip beritajakarta.com.

Menurut Dwi, produk-produk yang dihadirkan umumnya produk dalam negeri berkualitasnya sangat bagus, seperti aneka jenis bibit tanaman produktif (mangga, jambu, sawo, rambutan, jeruk) dan akan dijajakan dengan harga murah. Selain itu, ada sarana dan prasarana kebutuhan flora dan fauna, seperti pupuk, pot bunga, obat-obatan untuk tanaman ataupun hewan.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Ery Basworo mengatakan, pameran fauna dan flora ini merupakan kegiatan tahunan dalam rangka memperingati HUT Jakarta. Ia berharap, pengunjung pameran tak hanya wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara yang memang merupakan pencinta tanaman dan binatang piaraan.

3 Flora dan Fauna Langka Dari Indonesia

Bunga Bangkai (rafflesia arnoldi)
Ditemukan oleh rombongan Sir Stamfort (gubernur East Indi Company di Sumatera dan Jawa) dan Dr. Joseph Arnord, seorang naturalis yang mengadakan ekspedisi di Bengkulu pada tanggal 20 Mei 1818. Kedua nama tersebut diabadikan menjadi nama latin bungan ini oleh Robert Brown.
Indonesia dilimpahi dengan kekayaan hayati yang tiada taranya. Hutan yang terbentang di belasan ribu pulau mengandung berbagai jenis flora dan fauna, yang kadang tidak dapat dijumpai di bagian bumi lainnya dan merupakan salah satu negara Mega Biodiversity (kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumberdaya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah). Tidak kurang dari 47 jenis ekosistem alam yang khas sampai jumlah spesies tumbuhan berbunga yang sudah diketahui, sebanyak 11 % atau sekitar 30.000 jenis dari seluruh tumbuhan berbunga di dunia. Sayangnya, banyak jenis tumbuhan tertentu, mengalami kepunahan.
Sampai saat ini, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta tiga cabangnya (Kebun Raya Cibodas,Purwodadi, dan Bedugul Bali) baru mengoleksi 20 % total jenis tumbuhan yang ada di Indonesia. Koleksi anggrek kurang dari 5 % yang ada di Kawasan Timur Indonesia. Untuk jenis durian saja, Indonesia memiliki puluhan jenis, talas ada 700-an jenis, yang semuanya sangat potensial untuk dikembangkan. Menurut data base yang ada, terdapat 2 juta spesies tumbuhan di dunia dan 60%nya ada di Indonesia. Pemerintah kini terus berupaya untuk menyelamatkan berbagai kekayaan Sumbar Daya Alam berupa tumbuhan langka yang bermanfaat bagi manusia melalui usaha memperbanyak kebun raya, taman nasional, cagar alam dan daerah-daerah konservasi di seluruh Indonesia.
Tidak bisa dibayangkan banyaknya jenis tumbuh-tumbuhan atau flora di dunia ini. Sampai saat inipun banyak kalangan ilmuwan yang berpendapat bahwa belum semua jenis flora yang ada di bumi telah dikenali.
Seperti halnya hewan, jenis-jenis flora sangat ditentukan oleh lingkungan spesifiknya yang disebut juga sebagai habitat. Dengan bantuan manusia, beberapa diantara tumbuh-tumbuhan ini tersebar luas ke berbagai belahan bumi, sehingga ada jenis yang bisa ditemui di banyak negara, dan adapula yang hanya dapat ditemui di habitat asalnya.
Kerusakan lingkungan yang terjadi telah menghancurkan banyak habitat-habitat tumbuhan yang menyebabkan punahnya jenis-jenis tumbuhan tertentu, sehingga turut mempengaruhi kehidupan hewan dan penduduk yang tinggal diatasnya.


ELANG LAUT PUNGGUNG HITAM (Thalassarche melanophrys)

Malang benar nasib elang laut punggung hitam. Populasinya terus menyusut karena terjaring secara tak sengaja oleh mata pancing nelayan. Ia pun sering ditemukan mati akibat pemakaian pukat penangkap ikan.
Pada tahun 2002 populasinya tinggal 3 juta ekor. Sejak itu, ia mulai masuk dalam kategori hewan yang dilindungi. Selang setahun, elang laut punggug hitam sudah teridentifikasi sebagai binatang yang hampir punah. Sebanyak 21 spesies elang laut lainnya juga hidup dalam ancaman kepunahan.
Elang laut punggung hitam mengandalkan binatang air berkulit keras seperti kepiting dan udang sebagai pengisi perut. Ia juga menyukai ikan dan cumi-cumi. Kalau sedang sulit mencari mangsa, bangkai dan sampah pun disantapnya.
Binatang ini biasa membuat sarang di lereng-lereng yang curam. Sesekali, daratan datar di tepian pantai juga dijadikannya sebagai rumah. Ia hidup secara berkoloni. Seluruh tempat bermukimnya telah dijadikan sebagai area yang dilindungi. Ini dilakukan agar perkembangbiakan elang laut ini tetap terjaga. Langkah itu sangat penting mengingat perkembangbiakan burung ini cenderung menurun.
Burung bertubuh putih dan bersayap hitam ini paling banyak ditemui di Kep. Falkland, Malvinas. Kep. Campbell, Antipodes, dan Snares (Selandia Baru) juga merupakan sarang elang laut punggung hitam. Selain itu, Islas Diego Ramirez (Chili), Georgia Selatan, dan selatan Kep. Sandwich, Kep. Crozet dan Kerguelen, Kep. Heard dan McDonald, serta Kep. Macquarie (Australia).
Untuk menjaga elang laut punggung hitam dari kepunahan, organisasi konservasi BirdLife International membuat kampanye penyelamatan. Para nelayan dihimbau untuk menerapkan cara pemancingan dan penangkapan ikan yang lebih bersahabat dengan elang laut. Salah satunya ialah dengan menghindari pemakaian pukat.


JALAK BALI (Lencopsar rothcshildi)

Dulu, alam indah Pulau Bali adalah surga bagi Jalak Bali. Di sinilah tempat mereka terbang bebas mencari makan dan bersarang. Sebab, Jalak Bali tidak mengenal daerah lain sebagai tempat tinggal.
Sayangnya, belakangan hutan dan savana Bali tidak lagi aman untuk tempat bernaung bagi burung yang pernah menjadi maskot Provinsi Bali ini. Pembukaan lahan untuk ladang dan pertanian membuat pohon sulit ditemui. Padahal, Jalak Bali tidak bisa beradaptasi bersarang di tempat lain, selain lubang bekas sarang burung pelatuk. Di samping itu, perburuan yang tidak terkendali, pemasangan jebakan, dan penembakan liar terus mendera Jalak Bali. Binatang pemakan serangga dan buah ini pun terancam punah.
Di tahun 2001, menurut laporan access Bali online, hanya ada tujuh ekor burung Jalak Bali yang hidup bebas di Taman Nasional Bali Barat. Sementara itu, 230 ekor lainnya hidup di dalam kandang pembiakan di Amerika Utara. Inggris malah berhasil memelihara 520 ekor Jalak Bali.
Jalak Bali termasuk burung yang paling diminati di pasar gelap. Ketiadaannya di alam bebas membuat harga burung yang dikenal dengan nama Bali Starling ini melonjak tinggi. Kabarnya, seekor Jalak Bali dihargai tidak kurang dari Rp. 15 juta. Kendati sudah ada hukum yang menjerat pelaku perburuan Jalak Bali, burung ini tetap saja berada dalam kondisi yang terancam.
Sebetulnya, menurut para pecinta burung, Jalak Bali tidak terlalu spesial. Mereka mengaku keindahan burung ini tidak tercermin dari suaranya. Bulunyalah yang menjadi daya tarik Jalak Bali.
Burung ini berbadan putih. Sementara itu, ujung sayapnya dihiasi warna hitam. Di pipinya, terdapat pola berwarna biru membingkai matanya. Burung ini biasa bersarang berpasangan. Pada zaman dahulu, dalam satu kawanan biasanya terdapat 30 sampai 60 burung.

Potensi Flora dan Fauna

Jalak BaliFauna di Taman Nasional Bali Barat

A. Fauna
TNBB seringkali identik sebagai taman nasional yang dibentuk untuk memberikan perlindungan bagi kelangsungan / keberadaan Jalak Bali (Leucopsar rothchildi). Namun secara umum dapat dikatakan kawasan TNBB kaya akan potensi fauna. Berdasarkan jenisnya, fauna yang terdapat di TNBB antara lain terdiri dari 7 jenis mamalia, 2 jenis reftilia, 105 jenis aves, 120 jenis ikan, dan lain-lain.

Jenis-jenis fauna yang dilindungi yang terdapat di TNBB antara lain:

No Nama Nama Ilmiah Status
1 Jalak Bali Leucopsar rothschildi langka; dilindungi
2 Trenggiling, Kesih (Bali) Manis javanicus Langka; dilindungi katagori II (CITES)
3 Jelarang, Kapan-kapan (Bali) Ratufa bicolor Langka; dilindungi katagori II (CITES)
4 Landak Hystric branchyura Langka
5 Kueuk Felis marmorata langka; dilindungi populasi menurun
6 Menjangan Cervus timorensis Dilindungi; katagori II (CITES)
7 Banteng Bos javanicus langka; menuju kepunahan katagori III vulnerable
8 Pelanduk, Kancil (Bali) Trangulus javanicus langka; dilindungi populasi menurun
9 Biawak Varanus salvator langka;
10 Penyu rider Lepidochelys olivceae langka; dilindungi


B. Vegetasi

Berdasarkan ketinggian tempat maka kawasan TNBB dibagi dalam 2 ekosistem yakni Tipe Ekosistem Darat yang meliputi : Ekosistem Hutan Mangrove, Ekosistem Hutan Pantai, Ekosistem Hutan Pantai, Ekosistem Hutan Musim, Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah, Ekosistem Evergreen, Ekosistem Savana, dan Ekosistem River Rain Forest. Sedangkan Tipe Ekosistem Laut meliputi Ekosistem Coral Reef, Ekosistem Padang Lamun, Ekosistem Pantai Berpasir, Ekosistem Perairan Laut Dangkal, Dan Ekosistem Perairan Laut Dalam.

Flora di Taman Nasional Bali Barat

Jenis-jenis flora yang dilindungi yang terdapat di TNBB antara lain:

No Nama Nama Ilmiah Status
1 Bayur Pterospermum diversifolium Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972
2 Buni Antidesma bunius Tanaman langka
3 Bungur Langerstroemia speciosa Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972
4 Burahol Steleochocarpus burahol Langka
5 Cendana Santalum album Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972
6 Kemiri Aleuritas moluccana Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972
7 Kepah, Kepuh (Bali) Sterculia foetida Tamanam langka IUCN
8 Kesambi Schleichera oleosa Tamanam langka IUCN
9 Kruing bunga Diptercocaus Hasseltii Tanaman langka BTNBB
10 Mundu Garcinia dulcis Tamanam langka IUCN
11 Pulai Alstonia scolaris Tamanam langka IUCN
12 Sawo kecik Manilkara kauki Tamanam langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972)
13 Sono keling Dalbergia latifolia Tanaman Langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972)
14 Trengguli Cassia fistula Tanaman Langka

Wisata Flora & Fauna 2009 di Lapangan Banteng

Kabar gembira bagi para penggemar tanaman hias dan binatang. 'Pameran Flora dan Fauna Jakarta 2009' kembali digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Selama sebulan penuh mulai 17 Juli hingga 20 Agustus mendatang, para penikmat flora dan fauna akan dimanjakan dengan sejumlah stan tanaman hias dan aneka hewan peliharaan.
Ketua Panitia Flona dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar, mengatakan, kegiatan ini akan memberi banyak manfaat bagi pengunjung. "Mereka akan banyak mendapatkan informasi tentang pembudidayaan tanaman maupun hewan peliharaan," ujarnya.

Salah satunya melalui pelatihan pembudidayaan tanaman oleh pakar pembudidayaan tanaman dan hewan ternak. Pelatihan digelar gratis di sela-sela pameran. " Selain informasi tentu pengunjung juga bisa membeli aneka flora dan fauna yang menjadi kesukaannya."

Demi menarik banyak pengunjung, panitia akan menyuguhkan sejumlah atraksi menarik koleksi hewan Kebun Binatang Ragunan. "Kami juga sedang merencanakan secara teknis untuk menghadirkan gajah atau unta tunggang sehingga bisa menambah daya tarik," ujarnya.

Sebanyak 500 peserta diperkirakan terlibat dalam kegiatan tahunan ini. Mereka umumnya kalangan petani, peternak, dan pemilik toko flora dan fauna dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Saat ini pendaftaran peserta masih berlangsung di Sekretariat Lapangan Banteng.

Wisata Flora & Fauna 2009 di Lapangan Banteng

Kabar gembira bagi para penggemar tanaman hias dan binatang. 'Pameran Flora dan Fauna Jakarta 2009' kembali digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Selama sebulan penuh mulai 17 Juli hingga 20 Agustus mendatang, para penikmat flora dan fauna akan dimanjakan dengan sejumlah stan tanaman hias dan aneka hewan peliharaan.
Ketua Panitia Flona dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar, mengatakan, kegiatan ini akan memberi banyak manfaat bagi pengunjung. "Mereka akan banyak mendapatkan informasi tentang pembudidayaan tanaman maupun hewan peliharaan," ujarnya.

Salah satunya melalui pelatihan pembudidayaan tanaman oleh pakar pembudidayaan tanaman dan hewan ternak. Pelatihan digelar gratis di sela-sela pameran. " Selain informasi tentu pengunjung juga bisa membeli aneka flora dan fauna yang menjadi kesukaannya."

Demi menarik banyak pengunjung, panitia akan menyuguhkan sejumlah atraksi menarik koleksi hewan Kebun Binatang Ragunan. "Kami juga sedang merencanakan secara teknis untuk menghadirkan gajah atau unta tunggang sehingga bisa menambah daya tarik," ujarnya.

Sebanyak 500 peserta diperkirakan terlibat dalam kegiatan tahunan ini. Mereka umumnya kalangan petani, peternak, dan pemilik toko flora dan fauna dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Saat ini pendaftaran peserta masih berlangsung di Sekretariat Lapangan Banteng.

Persebaran Flora & Fauna / Hewan & Tumbuhan Di Indonesia - Ilmu Geografi

Indonesia meliliki keanekaragaman flora dan fauna baik di Indonesia bagian barat, tengah dan timur akibat pengaruh keadaan alam, rintangan alam dan pergerakan hewan di alam bebas. Ketiga wilayah di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas keragaman binatang dan tanaman yang ada di alam bebas.

Alfred Russel Wallace dan Max Wilhelm Carl Weber adalah orang-orang yang mengelompokkan tipe flora dan fauna Indonesia ke dalam tiga kelompok, yaitu :

1. Fauna Asiatis
Wilayah = Indonesia bagian barat (sumatera, jawa, kalimantan hingga selat makassar dan selat lombok)
Hewan = badak, harimau, orangutan, gajah, dsb.

2. Fauna Peralihan dan Fauna Asli
Wilayah = Indonesia bagian tengah (sulawesi dan nusa tenggara)
Hewan = Babi rusa, kuskus, burung maleo, kera, dll.

3. Fauna Australis
Wilayah = Indonesia bagian timur (papua)
Binatang = Burung cendrawasih, burung kakatua, kangguru, dsb.

- Dalam peta persebaran flora dan fauna Indonesia :
Antara fauna tipe asiatis dan peralihan terdapat garis wallace.
Antara fauna tipe peralihan dan tipe australis terdapat garis weber.

Kondisi flora dan fauna di setiap daerah dipengaruhi oleh banyak hal seperti :
1. Tinggi rendah dari permukaan laut
2. Jenis tanah
3. Jenis hutan
4. Iklim
5. Pengaruh manusia, dan lain-lain

Ditemukan 163 Spesies Baru Flora dan Fauna Asia Tenggara

HANOI - World Wildlife Fund of Nature (WWF) menemukan sekira 163 spesies baru Flora dan Fauna di wilayah Asia Tenggara terutama sepanjang wilayah Sungai Mekong.

Sungai sepanjang 4.800 kilometer itu merupakan sungai yang melintasi wilayah China Selatan, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam.

Menurut Kepala WWF Asian Species Conservation Program, Barney Long, WWF mencatat sekira 100 spesies tanaman baru, 28 spesies ikan, 18 spesies reptil dan 14 ampibi, dua mamalia, dan satu spesies baru burung.

Di antara 163 spesies baru flora dan fauna itu terdapat spesies unik di antaranya adalah katak bertaring pemakan burung dan tokek dengan kulit menyerupai macan. Tokek tersebut ditemukan di taman nasional Pulau Cat Ba sebelah utara Vietnam.

"Kami tetap akan meneruskan pencarian spesies baru ikan, primata dan mamalia dan membandingkannya dengan spesies-spesies yang telah ada di wilayah Asia Tenggara, dari perspektif biodiversity, kami yakin masih banyak lagi yang bisa ditemukan di wilayah ini," ujar Barney seperti dilansir CNN, Senin (28/9/2009).

Sementara itu, direktur WWF Greater Mekong Program, Dekila Chungyalpa mengatakan, penemuan 163 spesies baru itu menambah koleksi spesies yang telah tercantum di katalog WWF. Sejak tahun 1997 diperkirakan telah ditemukan 1200 spesies baru yang diklaim tak pernah ditemukan di belahan dunia manapun, hanya terdapat di Asia tenggara.

"Pembangunan yang sangat pesat di sekitar wilayah Mekong ditambah perubahan iklim, merupakan ancaman bagi populasi beberapa spesies," ujar Chungyalpa.

PELESTARIAN FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA

Indonesia memiliki banyak kawasan yang dilindungi dalam bentuk suaka alam. Kawasan suaka alam diatur dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa hutan suaka alam mencakup kawasan huitan yang karena sifatnya yang khas diperuntukkan secara khusus bagi perlindungan alam hayati dan manfaat-manfaat lainnya. Kawasan tersebut terdiri atas Cagar Alam dan Suaka Marga Satwa.

Cagar Alam adalah kawasan yang ditetapkan sebagai tempat untuk melindungi tumbuhan dan lingkungannya agar dapat tumbuh secara alami.

Suaka Marga Satwa adalah kawasan yang ditetapkan sebagai tempat untuk melindungi dan melestarikan berbagai jenis hewan agar terhindar dari kepunahan.

Persebaran Kawasan suaka alam yang dilindungi di indonesia :

1. PULAU SUMATRA

a. Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh & Sumatra Utara)

b. Taman Nasional Siberut (Sumatra Barat)

c. Taman Nasional Kerinci Seblat

d. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (Riau)

e. Taman Nasional Berbak (Jambi)

f. Taman Nasional Bukit Duabelas (Jambi)

g. Taman Nasional Bukit Barisan (Bengkulu & Lampung)

h. Taman Nasional Way Kambas (Lampung)

2. PULAU JAWA

a. Taman Nasional Ujung Kulon (Banten)

b. Taman Nasional Kepulauan Seribu (DKI Jakarta)

c. Taman Nasional Gunung Halimun (Jawa Barat)

d. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat)

e. Taman Nasional Laut Karimu Jawa (Jawa Tengah)

f. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur)

g. Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur)

h. Taman Nasional Baluran (Jawa Timur)

i. Taman Nasional Alas Purwo (Jawa Timur)

3. Bali dan Nusa Tenggara

a. Taman Nasional Bali Barat (Bali)

b. Taman Nasional Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat)

c. Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur)

d. Taman Nasional Kelimutu (Nusa Tenggara Timur)

4. KALIMANTAN

a. Taman Nasional Gunung Palung (Kalimantan Barat)

b. Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah)

c. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (Kalbar & Kalteng)

d. Taman Nasional Betung Karihun (Kalimantan Barat)

e. Taman Nasional Kayan Mentarang (Kalimantan Timur)

f. Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur)

5. PULAU SULAWESI

a. Taman Nasional Laut Bunaken Manado Tua (Sulawesi Utara)

b.Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Sulawesi Utara)

c.Taman Nasional Lore Lindu (Sulawesi Tengah)

d.Taman Nasional Laut Taka Bonerate (Sulawesi Selatan)

e.Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (Sulawesi Tenggara)

f.Taman Nasional Laut Wakatobi (Sulawesi Tenggara)

6. MALUKU dan PAPUA

a. Taman Nasional Manusel (Maluku)

b. Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih (Papua)

c. Taman Nasional Wasur (Papua)

d. Taman Nasional Gunung Lorentz (Papua)

Flora & Fauna Identitas Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki sumberdaya alam hayati yang tinggi dan tersebar di seluruh pelosok tanah air. Kekayaan sumberdaya alam hayati menjadi tumpuan baru bagi pembangunan nasional selain penggunaan sumberdaya alam takterbarukan seperti minyak bumi dan gas alam.

Kemajuan pembangunan nasional terus berlanjut menuju era industrialisasi, sementara itu pemantauan mutu lingkungan memerlukan perhatian khusus sebagai dampak dari sisi lain pembangunan nasional, meskipun Indonesia telah menganut azas pemanfaatan secara lestari namun kerusakan lingkungan akibat pembangunan tidak dapat dihindarkan.

Upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam hayati tidak dapat terlepas dari UUD 1945, khususnya Pasal 33 Ayat (3) yang berbunyi "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat". Pengertian dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat tidak berarti pemanfaatannya dilakukan dengan semena-mena namun juga harus memperhatikan aspek-aspek keserasian, keselarasan, keseimbangan, keadilan yang merata dan berkelanjutan, baik bagi generasi masa kini maupun yang akan datang.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk tetap menjaga keutuhan dan keberlanjutan dari sumberdaya alam hayati yang dapat terperbarukan sebagai tumpuan pembangunan saat ini, sehingga daya dukung lingkungan tetap seimbang. Ditetapkannya Undang-undang No.4 Tahun 1982 mengenai Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang­undang No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam. Hayati dan Ekosistemnya serta Undang-undang No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragam Hayati), mencerminkan bahwa Pemerintah tidak mengabaikan keberadaan lingkungan yang tetap utuh dan seimbang sehingga tidak mengkhawatirkan bagi generasi penerusnya.

Sumberdaya alam hayati yang meliputi keanekaragaman flora dan fauna mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup yang kehadirannya tidak dapat diganti. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan memiliki kedudukan serta berperan penting bagi kehidupan manusia, maka upaya konservasi sumberdaya alam hayati flora dan fauna menjadi kewajiban mutlak bagi setiap generasi.

Upaya-upaya konservasi tidak akan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan tanpa dukungan dan peran serta aktif dari segenap lapisan masyarakat. Oleh karena itu salah satu upaya yang dianggap strategis dan efektif oleh Pemerintah adalah dengan menetapkan berbagai macam kekayaan sumberdaya alam hayati tersebut ke dalam bentuk Identitas Flora dan Fauna Daerah. Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah merupakan upaya nyata yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Dengan ditetapkannya Flora dan Fauna Identitas Daerah Tingkat I ini dapat dilanjutkan pula dengan pemilihan Flora dan Fauna di Tingkat II, Kecamatan dan Desa. Diharapkan dengan demikian akan dapat mendorong upaya-upaya perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan secara berkelanjutan sumberdaya alam hayati flora dan fauna baik oleh aparat Pemerintah di Daerah maupun masyarakat secara keseluruhan sampai dengan ke Tingkat II bahkan Kecamatan dan Pedesaan.

Rabu, 17 Maret 2010

Identitas

nama Ria Astuti,alamatnya Paris,anak kelas A Prima Bone.