Rabu, 31 Maret 2010
Masa Depan Alam Indonesia
Akan tetapi banyak sekali perubahan yang terjadi di beberapa tahun ini yang membuat saya menjadi kuatir akan masa depan alam yang begitu indah di negeri kita ini. Penebangan hutang liar yang terjadi di daerah Kalimantan, yang membuat hutan tropis primer sekian lama sekian sedikit.
Saya juga membaca bahwa penangkapan ikan hias air laut yang mengunakan bom ikan, yang sangat disayangkan. Hutan bakau yang semestinya bisa membantu menjaga keseimbangan ekosistem di muara juga sebagian sudah disingkirkan untuk memacu pembangunan infrastruktur. Namun anda pasti bertanya, apakah itu salah? Dari segi ekonomi, mungkin jawabannya adalah tidak, tapi sebagai seorang yang mencintai lingkungan, saya harus bilang ya.
Indonesia adalah negara kepulauan, yang sumber flora dan fauna nya terdapat di atas air, maupun di dalam air. Salah satu contohnya, adalah burung cenderawasih yang terdapat di Irian Jaya dan Papua, Orangutan yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Biawak Komodo atau Komodo Dragon yang terdapat di Pulau Komodo, dan banyak sekali taman nasional bawah air yang terkenal di Bali, Manado dll.
Akan tetapi, kalau kita tidak memeliara alam yang kita punya sekarang, kita akan dihadapkan dengan masa depan yang suram. Banjir yang kita sering dengar di dalam berita, adalah satu dampak karena penebangan liar yang sering terjadi. Bukan hanya itu saja, pengusuran hutan bakau akan mengurangi daya serap gas karbon dioksida yang telah terbukti sebagai salah satu gas rumah hijau.
Dan dengan seiringnya penebangan hutan yang liar, di tambah penangkapan ikan hias air laut dengan cara pengunaan bom ikan, membuat saya kuatir tentang masa depan alam yang kita miliki ini. Setiap satu hektar hutan hujan yang kita tebang, entah berapa spesies flora dan fauna yang sampai sekarang mungkin belum kita ketahui telah kita musnahkan tanpa sadar. Salah satunya adalah populasi Orangutan di Sumatra dan Kalimantan yang sedang dalam status Endangered atau terancam keberadaannya.
Pengunaan bom ikan untuk menangkap ikan hias, bisa merusak terumbu terumbu karang, yang penting sekali untuk kelancaran ekosistem di dalam laut. Dan ikan ikan hias yang biasanya ditangkap dengan cara yang biadab tersebut, biasanya tidak akan lama hidup walaupun sudah dipindah ke akuarium, karena salah satu zat yang biasa digunakan untuk membuat bom ikan, adalah sebuah zat bernama sianida, yang telah terbukti beracun untuk hamper semua makhluk hidup.
Kalau aksi aksi yang telah saya sebut ini tidak diredam atau dicegah secepat mungkin, kita mungkin tidak lagi bisa menikmati keindahan alam yang membuat negeri ini menjadi cantik nan kaya akan flora dan faunanya. Ada pepatah yang berkata, kita akan menuai apa yang kita tanam, dan saya secara pribadi tidak mau pepatah itu menjadi kenyataan karena ulah kita sendiri.
Dari sisi ekonomi pun, perusakan alam yang sedang terjadi juga akan berdampak negatif, karena, banyak turis turis mancanegara justru datang ke negara kita untuk menikmati keindahaan alam kita, termasuk yang di bawah air. Bayangkan dampak ekonomi yang kita akan merasakan, apabila salah satu daya tarik pariwisata kita yang kita banggakan, dihancurkan oleh tangan kita sendiri.
Maka, saya menghimbau kepada segenap bangsa kita, untuk meyayangi dan menjaga sumber daya alam yang ada di bumi pertiwi ini, supaya kita masih bisa menikmatinya, dan lebih penting lagi, supaya generasi generasi yang akan mengikuti akan juga bisa menikmatinya, dan bukan cuma akan mengetahuinya dari buku buku atau di dalam kebun binatang saja. Itu adalah sesuatu yang pasti akan terjadi kalau kita tidak mulai sekarang mencintai dan menjaga apa yang telah bumi pertiwi ini serahkan dan memberi kita semua untuk dinikmati.
Masa Depan Alam Indonesia
Akan tetapi banyak sekali perubahan yang terjadi di beberapa tahun ini yang membuat saya menjadi kuatir akan masa depan alam yang begitu indah di negeri kita ini. Penebangan hutang liar yang terjadi di daerah Kalimantan, yang membuat hutan tropis primer sekian lama sekian sedikit.
Saya juga membaca bahwa penangkapan ikan hias air laut yang mengunakan bom ikan, yang sangat disayangkan. Hutan bakau yang semestinya bisa membantu menjaga keseimbangan ekosistem di muara juga sebagian sudah disingkirkan untuk memacu pembangunan infrastruktur. Namun anda pasti bertanya, apakah itu salah? Dari segi ekonomi, mungkin jawabannya adalah tidak, tapi sebagai seorang yang mencintai lingkungan, saya harus bilang ya.
Indonesia adalah negara kepulauan, yang sumber flora dan fauna nya terdapat di atas air, maupun di dalam air. Salah satu contohnya, adalah burung cenderawasih yang terdapat di Irian Jaya dan Papua, Orangutan yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Biawak Komodo atau Komodo Dragon yang terdapat di Pulau Komodo, dan banyak sekali taman nasional bawah air yang terkenal di Bali, Manado dll.
Akan tetapi, kalau kita tidak memeliara alam yang kita punya sekarang, kita akan dihadapkan dengan masa depan yang suram. Banjir yang kita sering dengar di dalam berita, adalah satu dampak karena penebangan liar yang sering terjadi. Bukan hanya itu saja, pengusuran hutan bakau akan mengurangi daya serap gas karbon dioksida yang telah terbukti sebagai salah satu gas rumah hijau.
Dan dengan seiringnya penebangan hutan yang liar, di tambah penangkapan ikan hias air laut dengan cara pengunaan bom ikan, membuat saya kuatir tentang masa depan alam yang kita miliki ini. Setiap satu hektar hutan hujan yang kita tebang, entah berapa spesies flora dan fauna yang sampai sekarang mungkin belum kita ketahui telah kita musnahkan tanpa sadar. Salah satunya adalah populasi Orangutan di Sumatra dan Kalimantan yang sedang dalam status Endangered atau terancam keberadaannya.
Pengunaan bom ikan untuk menangkap ikan hias, bisa merusak terumbu terumbu karang, yang penting sekali untuk kelancaran ekosistem di dalam laut. Dan ikan ikan hias yang biasanya ditangkap dengan cara yang biadab tersebut, biasanya tidak akan lama hidup walaupun sudah dipindah ke akuarium, karena salah satu zat yang biasa digunakan untuk membuat bom ikan, adalah sebuah zat bernama sianida, yang telah terbukti beracun untuk hamper semua makhluk hidup.
Kalau aksi aksi yang telah saya sebut ini tidak diredam atau dicegah secepat mungkin, kita mungkin tidak lagi bisa menikmati keindahan alam yang membuat negeri ini menjadi cantik nan kaya akan flora dan faunanya. Ada pepatah yang berkata, kita akan menuai apa yang kita tanam, dan saya secara pribadi tidak mau pepatah itu menjadi kenyataan karena ulah kita sendiri.
Dari sisi ekonomi pun, perusakan alam yang sedang terjadi juga akan berdampak negatif, karena, banyak turis turis mancanegara justru datang ke negara kita untuk menikmati keindahaan alam kita, termasuk yang di bawah air. Bayangkan dampak ekonomi yang kita akan merasakan, apabila salah satu daya tarik pariwisata kita yang kita banggakan, dihancurkan oleh tangan kita sendiri.
Maka, saya menghimbau kepada segenap bangsa kita, untuk meyayangi dan menjaga sumber daya alam yang ada di bumi pertiwi ini, supaya kita masih bisa menikmatinya, dan lebih penting lagi, supaya generasi generasi yang akan mengikuti akan juga bisa menikmatinya, dan bukan cuma akan mengetahuinya dari buku buku atau di dalam kebun binatang saja. Itu adalah sesuatu yang pasti akan terjadi kalau kita tidak mulai sekarang mencintai dan menjaga apa yang telah bumi pertiwi ini serahkan dan memberi kita semua untuk dinikmati.
Yuk, ke Pameran Flora dan Fauna
Kabid Taman Kota Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Dwi Bintarto, di Jakarta, Rabu (15/7), mengatakan, pameran flora dan fauna ini merupakan barometer penetapan harga dan tren tanaman hias beberapa waktu ke depan. "Harga di sini jadi indikator dan patokan. Saat ini yang lagi tren sansievierra, aglonema, adenium, anthurium, serta puring," katanya seperti dikutip beritajakarta.com.
Menurut Dwi, produk-produk yang dihadirkan umumnya produk dalam negeri berkualitasnya sangat bagus, seperti aneka jenis bibit tanaman produktif (mangga, jambu, sawo, rambutan, jeruk) dan akan dijajakan dengan harga murah. Selain itu, ada sarana dan prasarana kebutuhan flora dan fauna, seperti pupuk, pot bunga, obat-obatan untuk tanaman ataupun hewan.
Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Ery Basworo mengatakan, pameran fauna dan flora ini merupakan kegiatan tahunan dalam rangka memperingati HUT Jakarta. Ia berharap, pengunjung pameran tak hanya wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara yang memang merupakan pencinta tanaman dan binatang piaraan.
3 Flora dan Fauna Langka Dari Indonesia
Ditemukan oleh rombongan Sir Stamfort (gubernur East Indi Company di Sumatera dan Jawa) dan Dr. Joseph Arnord, seorang naturalis yang mengadakan ekspedisi di Bengkulu pada tanggal 20 Mei 1818. Kedua nama tersebut diabadikan menjadi nama latin bungan ini oleh Robert Brown.
Indonesia dilimpahi dengan kekayaan hayati yang tiada taranya. Hutan yang terbentang di belasan ribu pulau mengandung berbagai jenis flora dan fauna, yang kadang tidak dapat dijumpai di bagian bumi lainnya dan merupakan salah satu negara Mega Biodiversity (kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumberdaya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah). Tidak kurang dari 47 jenis ekosistem alam yang khas sampai jumlah spesies tumbuhan berbunga yang sudah diketahui, sebanyak 11 % atau sekitar 30.000 jenis dari seluruh tumbuhan berbunga di dunia. Sayangnya, banyak jenis tumbuhan tertentu, mengalami kepunahan.
Sampai saat ini, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta tiga cabangnya (Kebun Raya Cibodas,Purwodadi, dan Bedugul Bali) baru mengoleksi 20 % total jenis tumbuhan yang ada di Indonesia. Koleksi anggrek kurang dari 5 % yang ada di Kawasan Timur Indonesia. Untuk jenis durian saja, Indonesia memiliki puluhan jenis, talas ada 700-an jenis, yang semuanya sangat potensial untuk dikembangkan. Menurut data base yang ada, terdapat 2 juta spesies tumbuhan di dunia dan 60%nya ada di Indonesia. Pemerintah kini terus berupaya untuk menyelamatkan berbagai kekayaan Sumbar Daya Alam berupa tumbuhan langka yang bermanfaat bagi manusia melalui usaha memperbanyak kebun raya, taman nasional, cagar alam dan daerah-daerah konservasi di seluruh Indonesia.
Tidak bisa dibayangkan banyaknya jenis tumbuh-tumbuhan atau flora di dunia ini. Sampai saat inipun banyak kalangan ilmuwan yang berpendapat bahwa belum semua jenis flora yang ada di bumi telah dikenali.
Seperti halnya hewan, jenis-jenis flora sangat ditentukan oleh lingkungan spesifiknya yang disebut juga sebagai habitat. Dengan bantuan manusia, beberapa diantara tumbuh-tumbuhan ini tersebar luas ke berbagai belahan bumi, sehingga ada jenis yang bisa ditemui di banyak negara, dan adapula yang hanya dapat ditemui di habitat asalnya.
Kerusakan lingkungan yang terjadi telah menghancurkan banyak habitat-habitat tumbuhan yang menyebabkan punahnya jenis-jenis tumbuhan tertentu, sehingga turut mempengaruhi kehidupan hewan dan penduduk yang tinggal diatasnya.

ELANG LAUT PUNGGUNG HITAM (Thalassarche melanophrys)
Malang benar nasib elang laut punggung hitam. Populasinya terus menyusut karena terjaring secara tak sengaja oleh mata pancing nelayan. Ia pun sering ditemukan mati akibat pemakaian pukat penangkap ikan.
Pada tahun 2002 populasinya tinggal 3 juta ekor. Sejak itu, ia mulai masuk dalam kategori hewan yang dilindungi. Selang setahun, elang laut punggug hitam sudah teridentifikasi sebagai binatang yang hampir punah. Sebanyak 21 spesies elang laut lainnya juga hidup dalam ancaman kepunahan.
Elang laut punggung hitam mengandalkan binatang air berkulit keras seperti kepiting dan udang sebagai pengisi perut. Ia juga menyukai ikan dan cumi-cumi. Kalau sedang sulit mencari mangsa, bangkai dan sampah pun disantapnya.
Binatang ini biasa membuat sarang di lereng-lereng yang curam. Sesekali, daratan datar di tepian pantai juga dijadikannya sebagai rumah. Ia hidup secara berkoloni. Seluruh tempat bermukimnya telah dijadikan sebagai area yang dilindungi. Ini dilakukan agar perkembangbiakan elang laut ini tetap terjaga. Langkah itu sangat penting mengingat perkembangbiakan burung ini cenderung menurun.
Burung bertubuh putih dan bersayap hitam ini paling banyak ditemui di Kep. Falkland, Malvinas. Kep. Campbell, Antipodes, dan Snares (Selandia Baru) juga merupakan sarang elang laut punggung hitam. Selain itu, Islas Diego Ramirez (Chili), Georgia Selatan, dan selatan Kep. Sandwich, Kep. Crozet dan Kerguelen, Kep. Heard dan McDonald, serta Kep. Macquarie (Australia).
Untuk menjaga elang laut punggung hitam dari kepunahan, organisasi konservasi BirdLife International membuat kampanye penyelamatan. Para nelayan dihimbau untuk menerapkan cara pemancingan dan penangkapan ikan yang lebih bersahabat dengan elang laut. Salah satunya ialah dengan menghindari pemakaian pukat.

JALAK BALI (Lencopsar rothcshildi)
Dulu, alam indah Pulau Bali adalah surga bagi Jalak Bali. Di sinilah tempat mereka terbang bebas mencari makan dan bersarang. Sebab, Jalak Bali tidak mengenal daerah lain sebagai tempat tinggal.
Sayangnya, belakangan hutan dan savana Bali tidak lagi aman untuk tempat bernaung bagi burung yang pernah menjadi maskot Provinsi Bali ini. Pembukaan lahan untuk ladang dan pertanian membuat pohon sulit ditemui. Padahal, Jalak Bali tidak bisa beradaptasi bersarang di tempat lain, selain lubang bekas sarang burung pelatuk. Di samping itu, perburuan yang tidak terkendali, pemasangan jebakan, dan penembakan liar terus mendera Jalak Bali. Binatang pemakan serangga dan buah ini pun terancam punah.
Di tahun 2001, menurut laporan access Bali online, hanya ada tujuh ekor burung Jalak Bali yang hidup bebas di Taman Nasional Bali Barat. Sementara itu, 230 ekor lainnya hidup di dalam kandang pembiakan di Amerika Utara. Inggris malah berhasil memelihara 520 ekor Jalak Bali.
Jalak Bali termasuk burung yang paling diminati di pasar gelap. Ketiadaannya di alam bebas membuat harga burung yang dikenal dengan nama Bali Starling ini melonjak tinggi. Kabarnya, seekor Jalak Bali dihargai tidak kurang dari Rp. 15 juta. Kendati sudah ada hukum yang menjerat pelaku perburuan Jalak Bali, burung ini tetap saja berada dalam kondisi yang terancam.
Sebetulnya, menurut para pecinta burung, Jalak Bali tidak terlalu spesial. Mereka mengaku keindahan burung ini tidak tercermin dari suaranya. Bulunyalah yang menjadi daya tarik Jalak Bali.
Burung ini berbadan putih. Sementara itu, ujung sayapnya dihiasi warna hitam. Di pipinya, terdapat pola berwarna biru membingkai matanya. Burung ini biasa bersarang berpasangan. Pada zaman dahulu, dalam satu kawanan biasanya terdapat 30 sampai 60 burung.
Potensi Flora dan Fauna


A. Fauna
TNBB seringkali identik sebagai taman nasional yang dibentuk untuk memberikan perlindungan bagi kelangsungan / keberadaan Jalak Bali (Leucopsar rothchildi). Namun secara umum dapat dikatakan kawasan TNBB kaya akan potensi fauna. Berdasarkan jenisnya, fauna yang terdapat di TNBB antara lain terdiri dari 7 jenis mamalia, 2 jenis reftilia, 105 jenis aves, 120 jenis ikan, dan lain-lain.
Jenis-jenis fauna yang dilindungi yang terdapat di TNBB antara lain:
| No | Nama | Nama Ilmiah | Status |
| 1 | Jalak Bali | Leucopsar rothschildi | langka; dilindungi |
| 2 | Trenggiling, Kesih (Bali) | Manis javanicus | Langka; dilindungi katagori II (CITES) |
| 3 | Jelarang, Kapan-kapan (Bali) | Ratufa bicolor | Langka; dilindungi katagori II (CITES) |
| 4 | Landak | Hystric branchyura | Langka |
| 5 | Kueuk | Felis marmorata | langka; dilindungi populasi menurun |
| 6 | Menjangan | Cervus timorensis | Dilindungi; katagori II (CITES) |
| 7 | Banteng | Bos javanicus | langka; menuju kepunahan katagori III vulnerable |
| 8 | Pelanduk, Kancil (Bali) | Trangulus javanicus | langka; dilindungi populasi menurun |
| 9 | Biawak | Varanus salvator | langka; |
| 10 | Penyu rider | Lepidochelys olivceae | langka; dilindungi |
B. Vegetasi
Berdasarkan ketinggian tempat maka kawasan TNBB dibagi dalam 2 ekosistem yakni Tipe Ekosistem Darat yang meliputi : Ekosistem Hutan Mangrove, Ekosistem Hutan Pantai, Ekosistem Hutan Pantai, Ekosistem Hutan Musim, Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah, Ekosistem Evergreen, Ekosistem Savana, dan Ekosistem River Rain Forest. Sedangkan Tipe Ekosistem Laut meliputi Ekosistem Coral Reef, Ekosistem Padang Lamun, Ekosistem Pantai Berpasir, Ekosistem Perairan Laut Dangkal, Dan Ekosistem Perairan Laut Dalam.

Jenis-jenis flora yang dilindungi yang terdapat di TNBB antara lain:
| No | Nama | Nama Ilmiah | Status |
| 1 | Bayur | Pterospermum diversifolium | Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 |
| 2 | Buni | Antidesma bunius | Tanaman langka |
| 3 | Bungur | Langerstroemia speciosa | Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 |
| 4 | Burahol | Steleochocarpus burahol | Langka |
| 5 | Cendana | Santalum album | Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 |
| 6 | Kemiri | Aleuritas moluccana | Tanaman langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 |
| 7 | Kepah, Kepuh (Bali) | Sterculia foetida | Tamanam langka IUCN |
| 8 | Kesambi | Schleichera oleosa | Tamanam langka IUCN |
| 9 | Kruing bunga | Diptercocaus Hasseltii | Tanaman langka BTNBB |
| 10 | Mundu | Garcinia dulcis | Tamanam langka IUCN |
| 11 | Pulai | Alstonia scolaris | Tamanam langka IUCN |
| 12 | Sawo kecik | Manilkara kauki | Tamanam langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972) |
| 13 | Sono keling | Dalbergia latifolia | Tanaman Langka (IUCN; dilindungi SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972) |
| 14 | Trengguli | Cassia fistula | Tanaman Langka |
Wisata Flora & Fauna 2009 di Lapangan Banteng
Ketua Panitia Flona dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar, mengatakan, kegiatan ini akan memberi banyak manfaat bagi pengunjung. "Mereka akan banyak mendapatkan informasi tentang pembudidayaan tanaman maupun hewan peliharaan," ujarnya.
Salah satunya melalui pelatihan pembudidayaan tanaman oleh pakar pembudidayaan tanaman dan hewan ternak. Pelatihan digelar gratis di sela-sela pameran. " Selain informasi tentu pengunjung juga bisa membeli aneka flora dan fauna yang menjadi kesukaannya."
Demi menarik banyak pengunjung, panitia akan menyuguhkan sejumlah atraksi menarik koleksi hewan Kebun Binatang Ragunan. "Kami juga sedang merencanakan secara teknis untuk menghadirkan gajah atau unta tunggang sehingga bisa menambah daya tarik," ujarnya.
Sebanyak 500 peserta diperkirakan terlibat dalam kegiatan tahunan ini. Mereka umumnya kalangan petani, peternak, dan pemilik toko flora dan fauna dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Saat ini pendaftaran peserta masih berlangsung di Sekretariat Lapangan Banteng.
Wisata Flora & Fauna 2009 di Lapangan Banteng
Ketua Panitia Flona dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar, mengatakan, kegiatan ini akan memberi banyak manfaat bagi pengunjung. "Mereka akan banyak mendapatkan informasi tentang pembudidayaan tanaman maupun hewan peliharaan," ujarnya.
Salah satunya melalui pelatihan pembudidayaan tanaman oleh pakar pembudidayaan tanaman dan hewan ternak. Pelatihan digelar gratis di sela-sela pameran. " Selain informasi tentu pengunjung juga bisa membeli aneka flora dan fauna yang menjadi kesukaannya."
Demi menarik banyak pengunjung, panitia akan menyuguhkan sejumlah atraksi menarik koleksi hewan Kebun Binatang Ragunan. "Kami juga sedang merencanakan secara teknis untuk menghadirkan gajah atau unta tunggang sehingga bisa menambah daya tarik," ujarnya.
Sebanyak 500 peserta diperkirakan terlibat dalam kegiatan tahunan ini. Mereka umumnya kalangan petani, peternak, dan pemilik toko flora dan fauna dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Saat ini pendaftaran peserta masih berlangsung di Sekretariat Lapangan Banteng.